Fire Kids Ambon

Posted on Posted in Kesaksian

Shalom

Berbagi cerita dari FK Ambon. Saya ingat persis tanggal 28 November 2017 Tuhan mempercayakan pelayanan anak-anak pada kami. Di hari yang sama saya sedang mengalami kecelakaan lalulintas, saya ditipu dan uang saya diambil semua.

Di malam hari sekitar jam  19.00 saya diundang untuk hadir dalam pertemuan persekutuan dengan agenda pembahasan natal persekutuan. Waktu saya hadir dalam pertemuan tersebut, saya lebih fokus pada anak-anak yang sementara berkeliaran di luar sambil bermain.

Saya mengambil waktu saat teduh 5 menit dan Tuhan ngomong “Qi kamu harus kumpulkan mereka” dan saat itu juga saya panggil mereka dan semua mereka kumpul. Kumpul pertama kali dengan kehadiran 7 orang anak, esok hari mereka kumpul dan jumlah mereka 11 orang.

Saya sharing dengan Kak Joni, Kak Yoyo, Kak Adi sama Ci Beatrix. Saya ingat persis pertanyaan yang saya lontarkan pada mereka “Kakak, saya dipercayakan Tuhan untuk ambil pelayanan anak, gimana cara memulainya? Apa ada metode atau pola yang bisa di pake untuk didik mereka ?” Jawaban mereka, “Risky kamu hanya berdoa dan tanya Tuhan. Pake cara Tuhan dan bukan cara kamu.” Saya mulai paham apa yang mereka maksud. Dan Ci Beatrix ngomong “kamu harus kasih nama FIRE KIDS”.

Malam hari itu juga saya komunikasi dengan Leader The Gidion Internasional untuk meminta bantuan Alkitab dan puji Tuhan di kasih 30 Alkitab. Sejauh ini yang kita lakukan yaitu tiap malam kita semua kumpul. Mereka sangat kecewa dan marah kalau 1 malam tidak kumpul atau saya datang terlambat.

Kita sering jalan pagi, doa subuh di sekolah, makan bareng, mandi air laut bareng, main permainan tradisional di malam hari, antar-jemput mereka kesekolah tiap hari, sering jalan-jalan pake motor sambil nyanyi di atas motor dengan bergiliran, sering ke pantai untuk bermain dan bercerita tentang Tuhan, peduli lingkungan dengan cara memilih dan kumpul bekas gelas Aiso untuk dibersikan, ditimbang dan hasilnya untuk belanja kebutuhan mereka, kita ajari mereka juga supaya gemar menabung. Puji Tuhan, kemarin saya buka celengan mereka, jumlah uangnya ada Rp. 100.000. Tapi kebanyakan koin haha. Saya pergi ke toko dan beli papan tulis kecil, spidol, penghapus, alat bantu baca ABC, poster matematika dan poster baca. Waktu beli mau dibayar pake uang koin tapi saya malu hati, saya peka uang kertas milik ku untuk blanja saja nanti uang koin milik saya.

Anak- anak kami ada 3 orang yang belum sekolah, ada yang SD kelas 1,2, 4,6 dan SMP kelas 1. Jadi umuran mereka 4-13 tahun. Puji Tuhan ada yg mau gabung juga sekitar 3-4 anak. Kelebihan kami sejauh ini yaitu kebersamaan. Kami Fire kids ambon punya banyak kelemahan. Misalnya tenaga pengajar yang kurang, sarana dan prasarana minim.

Sering kumpul di kamar saya dengan ukuran 2x2m jadi waktu kumpul sempit sekali. Begitu juga dengan lingkungan yang kami tinggal tidak mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebab lingkungan rawan konflik, miras, kumpul kebo, free seks, aborsi di tambah latar belakang keluarga yg terlalu keras mendidik mereka dengan cara memaki, dipukul. Sering dipakai cara kekerasan utk mendidik anak.

Setiap kali kumpul mereka sering melawan dan rasa-rasanya saya mau mukul mereka tapi tak sanggup. Emosi saya matikan dalam hati saya. Tapi puji Tuhan mereka mengalami perubahan setiap hari dan butuh waktu untuk Tuhan jamah mereka. Inilah cerita kami dari prajurit Allah di tanah Ambon.

Yesus Tuhan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *