Retreat Pengurus Fire House

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” – Pengkotbah 3:1

Ada waktu untuk dierami, ada waktu untuk keluar dari cangkang, dididik dan direlease untuk mengerjakan destiny yang Tuhan taruh dalam setiap hidup kita.

Masa demi masa dilalui.

Fire Generation lahir dari beberapa orang yang mengalami Tuhan, menyerahkan dan menaruh setiap mimpi mereka di dalam tangan Tuhan untuk mengerjakan Indonesia. Kini pergerakan ini telah berkembang dan bertumbuh sesuai dengan rancangan yang Tuhan buat. Pemimpin melahirkan pemimpin dan jika Fire Generation ada sampai hari ini, ini semua karena kasih karunia Tuhan saja. “Sebuah kebanggaan untuk melihat mereka yang dulunya diurus, sekarang mereka mengerjakan generasi di bawahnya” – Henry Setiawan. Generasi ke generasi mempunyai ceritanya masing-masing. 4-6 Juli 2017, Fire Generation mengadakan sebuah Retreat Pengurus Fire House di sebuah villa di Tawangmangu, Karanganyar. Tujuan dari retreat ini adalah memperlengkapi dan menyamakan nilai-nilai untuk para pengurus di setiap Fire House yang ada. Pengurus Fire House dari Indonesia Barat, Indonesia Tengah dan Indonesia Timur ada di dalamnya. Banyak cerita yang terjadi disana dari sesi demi sesi yang terselenggara.

“Sebelum retreat ada beberapa hal yang belum beres dalam hidup saya. Dari dulu saya mencoba untuk membereskan hal tersebut tetapi selalu gagal. Saya benar-benar rindu untuk bisa terlepas dari hal tersebut. Singkat cerita saat altarcall sesi 1: Kapita Selekta, semua peserta yang ingin melepas hal-hal yang belum beres dalam hidupnya ditantang maju ke altar untuk dibereskan. Waktu itu tiba-tiba ada seseorang yang mendatangi saya dan mendoakan saya. Saya mendapat jamahan Tuhan yang luar biasa. Saya merasakan kelegaan dan saya berkomitmen sama Tuhan untuk tidak main-main lagi dengan hati saya. Intinya saya bersyukur atas semua kasih karunia yang Tuhan berikan pada saya. Tanpa campur tangan Tuhan, saya tidak akan ada di tengah-tengah keluarga ini.” – Deny (FH Manahan)

“Di sesi Pionner, ko Henry bilang jika kita takut mengambil risiko berarti kita berarti tidak percaya atas penyertaan Tuhan buat hidup kita. Disitu aku sadar banget kalau selama ini aku selalu memilih untuk diam karena aku takut dicap salah, aku takut kalau semua orang mengingat kesalahan itu dan aku terus berada dalam intimidasi. Aku berdoa supaya Tuhan kasih kekuatan lebih lagi. Retreat kemarin adalah breakthrough dalam hidup saya.” – Lusiana (Kingdom Family Klaten)

“Aku diajari untuk memperlebar kapasitas hati dan menaikkan standart hidupku, dan aku juga diajari untuk pegang tongkat yang Tuhan beri. Aku diberi tongkat emas sama Tuhan. Sewaktu aku berdoa, aku dilihatin dosanya temen-temenku. Disana ada Tuhan yang lagi lihat dengan sedih dan mereka nggak peduli, malahan menyiksa Tuhan dengan perbuatan mereka. Di retreat aku diajari makan makanan keras karena aku bukan anak-anak lagi. Aku nggak boleh santai atau berlambat-lambat untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan. Tuhan utus aku untuk mengerjakan sekolah-sekolah, aku bilang sama Tuhan aku takut, tapi Tuhan bilang jangan takut karena Aku besertamu. Aku melihat langit terbuka atas sekolahku dan Tuhan sudah siap berperang dan membuka lebar kedua tangannya untuk Sidokare. Dia tanya apakah kami siap? Aku belajar untuk mempersiapkan pasukan Sidokare buat mempersiapkan anugerah Tuhan itu.” – Fitri (FH Kratonan)

Semuanya mengalami Tuhan dan mendapat jawaban atas setiap pergumulan mereka. Satu pesan yang harus selalu diingat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Janji-Nya buat Indonesia masih tetap Ya dan Amin. Sekarang, Indonesia masih belum selesai. Tuhan masih menanti orang-orang-Nya muncul — mereka yang sudah ditaruh hati untuk Indonesia disetiap bidang yang ada. Retreat Pengurus sudah berakhir, tetapi jangan berhenti disana. Ini waktunya mengerjakan apa yang sudah Tuhan taruh di hati kita masing-masing. Tuhan tidak hanya membutuhkan janji, namun ketetapan hati untuk terus mengerjakan bagian kita sampai Tuhan datang kedua kali nanti. Waktunya sudah tidak banyak, mari jangan takut dan jangan berlambat-lambat untuk berlari karena ada banyak hal di depan yang harus dikerjakan.

“Pada waktu itu TUHAN semesta alam akan menjadi mahkota kepermaian, dan perhiasan kepala yang indah-indah bagi sisa umat-Nya, akan menjadi roh keadilan bagi orang yang duduk mengadili, dan menjadi roh kepahlawanan bagi orang yang memukul mundur peperangan ke arah pintu gerbang” – Yesaya 28:5-6

Yesus Tuhan!

(EL)